Surat Terbuka untuk Alumni Lirboyo

Surat Terbuka untuk Alumni Lirboyo
informasi-publik.com,

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Kepada segenap keluarga besar Alumni Lirboyo, izinkan tulisan ini menjadi bahan renungan bersama.

Lirboyo adalah salah satu mata rantai penting dalam sanad keilmuan Nahdlatul Ulama. Dari rahimnya lahir banyak ulama, kiai, dan pendakwah yang mengabdi kepada agama, bangsa, dan jam’iyah. Kebesaran NU dibangun oleh ribuan pesantren yang saling menyambung sanad, saling menguatkan perjuangan, dan saling menghormati. Karena itu, memuliakan Lirboyo semestinya juga melahirkan penghormatan kepada seluruh pesantren yang menjadi bagian dari jaringan keilmuan NU.

Karena itu, jangan sampai kecintaan kepada Lirboyo membuat kita sulit mengakui kebesaran Tebuireng, Sidogiri, Langitan, Sarang, Tremas, Termas, Ploso, Buntet, Kaliwungu, Al-Anwar, API Tegalrejo, atau ribuan pesantren lain yang telah ikut menjaga agama dan melahirkan ulama. Menghormati mereka sama sekali tidak mengurangi kemuliaan Lirboyo. Sebaliknya, itulah akhlak yang diwariskan para kiai.

Sebagai santri, kita diajarkan untuk berlaku adil. Allah SWT berfirman, “Janganlah kecintaan kepada suatu kaum mendorong kalian berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa” (QS. Al-Ma’idah: 8). Ayat ini mengingatkan bahwa cinta kepada almamater tidak boleh berubah menjadi fanatisme yang menutup mata terhadap jasa dan kelayakan pesantren-pesantren lain.

Dukungan kepada Lirboyo sebagai tempat Muktamar adalah hak setiap alumninya, tetapi jangan sampai berkembang menjadi anggapan bahwa hanya Lirboyo yang layak, sementara pesantren lain dipandang sebelah mata. Semakin tinggi ilmu seorang santri, semakin luas pula penghormatannya kepada seluruh mata air keilmuan.

Belakangan ini media sosial ramai dengan flayer dukungan dari Himasal di berbagai daerah agar Muktamar NU ke-35 diselenggarakan di Lirboyo. Aspirasi itu tentu sah. Namun, Himasal juga perlu menjaga nalar kritis. Jangan sampai dukungan diberikan semata-mata karena ikatan emosional sebagai alumni, tanpa membaca dinamika yang sedang berlangsung.

Menjelang Muktamar, setiap kubu tentu memiliki strategi dan kepentingannya masing-masing. Sangat mungkin nama besar Lirboyo dipandang memiliki daya legitimasi politik yang menguntungkan pihak tertentu. Di sinilah kehormatan Lirboyo harus dijaga. Jangan sampai pesantren yang selama ini menjadi mercusuar ilmu dan akhlak justru dipersepsikan sebagai tameng bagi kepentingan salah satu kubu.

Mencintai Lirboyo adalah adab, tetapi menjaga marwahnya dengan tetap bersikap kritis, adil, dan mengutamakan kemaslahatan Nahdlatul Ulama adalah tanggung jawab setiap alumninya.

Akhirnya, apabila surat terbuka ini dipandang terlalu lancang, kurang berkenan, atau terdapat kalimat yang kurang tepat, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Tulisan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengurangi kemuliaan Lirboyo, apalagi merendahkan jasa para kiai dan guru yang selama ini menjadi salah satu pilar penjaga tradisi keilmuan Nahdlatul Ulama. Justru karena rasa hormat itulah, saya berharap marwah pesantren tetap dijaga agar senantiasa berdiri di atas nilai keilmuan, keadilan, dan kemaslahatan jam’iyah, bukan terseret ke dalam kepentingan sesaat. Wallāhu a’lam biṣ-ṣawāb.


Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *