Bunga dan Musim yang Tak Pernah Dipilih

Bunga dan Musim yang Tak Pernah Dipilih
informasi-publik.com,

Surabaya- Putih tak akan menjadi abu-abu. Begitu pula kebenaran yang diam-diam disimpan Bunga di dalam dirinya. Ada sesuatu yang pernah datang tanpa ia kehendaki, meninggalkan jejak yang tidak mudah diterjemahkan oleh kata-kata.

Sejak hari itu, Bunga tetap menjalani kehidupan seperti biasa. Ia masih tersenyum, berbicara, bercanda, dan hadir di antara banyak orang. Dari luar, tidak ada yang benar-benar berubah. Namun, tidak semua yang retak terdengar ketika pecah.

Ada malam-malam ketika Bunga terdiam lebih lama dari biasanya. Tatapannya jauh, seolah sedang berhadapan dengan sebuah halaman lama yang belum sanggup ia tutup sepenuhnya.

Ia pernah bertanya kepada dirinya sendiri, apakah ada sesuatu yang salah pada dirinya.

Pertanyaan itu tumbuh perlahan, seperti duri yang tidak terlihat. Ia mencoba mengingat kembali banyak hal, mencari kemungkinan bahwa semua itu terjadi karena kesalahannya.

Padahal, tidak semua kejadian buruk membutuhkan kesalahan dari seseorang yang mengalaminya.

Bunga hanya berada pada sebuah musim yang tidak pernah ia pilih.

Dan untuk waktu yang cukup panjang, ia harus belajar membedakan antara menerima kenyataan dan menyalahkan diri sendiri.

Pertarungan itu tidak selalu berupa tangisan. Terkadang, ia hadir dalam bentuk diam. Dalam senyum yang dipaksakan. Dalam keinginan untuk menjauh, sekaligus keinginan untuk kembali menjadi dirinya yang dahulu.

Bunga ingin melupakan.

Namun, ia takut bahwa melupakan berarti menghapus bagian dari dirinya.

Bunga ingin berdamai.

Namun, ia tidak ingin perdamaian membuat sesuatu yang salah seolah-olah menjadi benar.

Kemudian, perlahan ia mengerti.

Berdamai bukan berarti memberikan pembenaran kepada masa lalu. Berdamai adalah berhenti membiarkan masa lalu menghukum dirinya setiap hari.

Ia tidak dapat kembali ke hari itu. Tidak dapat mengubah apa yang telah terjadi. Tetapi ia masih memiliki pagi yang belum selesai, langkah yang belum ditempuh, dan kehidupan yang masih menunggu untuk dijalani.

Maka Bunga mulai berjalan.

Tidak selalu cepat. Tidak selalu tegak. Kadang ia masih menoleh, tetapi tidak lagi tinggal di sana.

Ia belajar bahwa mengingat tidak selalu berarti kembali.

Ada kenangan yang cukup diletakkan di sebuah halaman, bukan untuk terus dibaca, melainkan untuk diakui bahwa halaman itu pernah ada.

Bunga pun mulai menanam kembali dirinya sendiri.

Bukan untuk menjadi seperti dahulu.

Melainkan untuk menjadi seseorang yang baru, dengan batas yang lebih ia kenali, suara yang lebih ia percaya, dan keberanian untuk menentukan ke mana hidupnya akan dibawa.

Sebab bunga tidak selalu mekar karena musimnya ramah.

Ada yang tumbuh setelah hujan panjang.

Ada yang bertahan di antara tanah yang kering.

Ada pula yang mekar setelah berkali-kali hampir kehilangan harapan.

Begitu pula Bunga.

Masa lalu boleh menjadi satu halaman dalam kehidupannya, tetapi bukan seluruh bukunya.

Ia boleh mengingat tanpa tenggelam.

Ia boleh menangis tanpa menyerah.

Ia boleh berjalan tanpa harus menjelaskan seluruh perjalanannya kepada dunia.

Dan suatu hari nanti, ketika ia menoleh ke belakang, mungkin ia tidak akan mengatakan bahwa semua itu tidak pernah terjadi.

Ia hanya akan berkata:

“Aku pernah melewati musim itu, tetapi aku tidak tinggal di dalamnya.”

Lalu Bunga kembali melangkah.

Sebab hidupnya masih panjang.

Dan halaman berikutnya adalah miliknya untuk ditulis.

     (Gatra Nugraha)

 

 


Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *