SURABAYA – Sore hari di Jalan Kedinding Lor, Kecamatan Kenjeran, berubah menjadi kelabu ketika asap hitam mengepul dari sebuah bangunan toko percetakan bernama Al Ayyubi pada Sabtu (24/10/2026), tepat pukul 17.00 WIB. Di tengah hiruk-pikuk senja yang seharusnya membawa ketenangan, api justru menari liar, menyantap sisa-sisa karya dan impian yang tersimpan di balik dinding-dinding tempat usaha tersebut. Namun, di balik duka yang membumbung bersama asap, ada satu anugerah tak ternilai yang membuat hati masih bisa berlega: tidak ada korban jiwa dalam tragedi ini.
Zitni, salah satu anggota keluarga pemilik bangunan, masih mengingat jelas detik-detik mencekam itu. Ia baru menyadari bahaya ketika teriakan panik warga memecah keheningan sore. Titik awal malapetaka itu bermula dari lantai dua, di mana dugaan kuat mengarah pada korsleting listrik pada unit penyejuk udara (AC). Dalam sekejap mata, nyala api yang awalnya kecil itu menemukan umpan sempurna: tumpukan kertas, tinta, dan material percetakan yang kering dan mudah terbakar. Api pun menjalar dengan ganas, merambat turun ke lantai dasar seolah tak ingin menyisakan ruang bagi harapan yang pernah dibangun di sana.
Sebelum bantuan tiba, tangan-tangan keluarga sempat berusaha melawan si jago merah dengan peralatan seadanya. Namun, apa daya? Bahan baku percetakan yang seharusnya menjadi sumber rezeki, kini berbalik menjadi bahan bakar yang membuat kobaran api kian membesar dalam hitungan menit. Ketidakberdayaan itu hanya bisa disaksikan sambil menahan napas, menunggu pertolongan yang akhirnya datang.
Tim Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya bergerak sigap begitu laporan diterima. Dengan profesionalisme tinggi, mereka mengisolasi titik api dan melakukan pembasahan menyeluruh, memastikan tidak ada bara tersembunyi yang siap membangkitkan kembali mimpi buruk itu. Kehadiran mereka bukan sekadar memadamkan api, tetapi juga memulihkan rasa aman yang sempat retak.
Di sisi lain, unsur pengamanan setempat,termasuk jajaran Pamta dan Tim Inafis Polres Pelabuhan Tanjung Perak,turut hadir mendukung proses penanganan. Kapolsek Kenjeran Kompol Yuyus Andriastanto, S.H., M.H., yang turut memantau langsung di lokasi, menegaskan bahwa meski kerugian materiil tak terhindarkan, keselamatan nyawa adalah prioritas tertinggi yang telah berhasil dijaga. “Alhamdulillah, dalam kejadian kebakaran kali ini tidak ada korban jiwa. Ini adalah nikmat terbesar yang harus kita syukuri di tengah musibah. Harta bisa dicari lagi, namun nyawa adalah amanah yang tak tergantikan,” ujar Kompol Yuyus dengan nada yang tenang namun penuh empati. Ia menambahkan bahwa kepolisian akan terus mendampingi keluarga korban dan memastikan proses penyelidikan berjalan transparan untuk mencegah terulangnya peristiwa serupa.
Kini, kepolisian tengah menerjunkan tim untuk olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan penyelidikan mendalam. Setiap jejak arang, setiap bekas hangus, akan dibaca sebagai saksi bisu yang kelak mengungkap penyebab pasti di balik tragedi sore ini.
Kebakaran di Kedinding Lor bukan sekadar hilangnya harta benda. Ia adalah pengingat pahit tentang betapa rapuhnya keseimbangan antara teknologi dan keselamatan, serta tentang ketabahan manusia yang harus bangkit dari abu. Namun, ia juga menjadi bukti bahwa di tengah kehilangan, masih ada cahaya syukur yang tak boleh padam: cahaya kehidupan yang masih diberikan kesempatan untuk memulai kembali, membangun harapan baru dari reruntuhan yang hangus.
(Arif Billah)
Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!