Surabaya – Pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto rupanya bukan hanya menimbulkan tepuk tangan, tetapi juga tepuk jidat. Gatra Nugraha, pegiat literasi dan seni asal Surabaya, menilai keputusan tersebut sebagai bentuk absurditas sejarah yang dipoles menjadi seremoni kehormatan,Senin (10/11/2025).
Menurut Gatra, gelar itu justru mengaburkan batas antara jasa dan dosa.
“Kalimat pahlawan nasional kini terasa seperti gelas retak yang dipaksa menampung air jernih. Dari jauh tampak bening, tapi siapa pun yang meneguknya akan berdarah di lidah nurani,” ujarnya, dengan nada getir.
Ia menyebut, bangsa ini sedang menonton pertunjukan ironis dari sebuah sandiwara besar di mana pelanggar HAM diabadikan dalam bingkai kehormatan.
“Kita sedang memberi tepuk tangan pada masa lalu yang belum menuntaskan air matanya,” tambahnya.
Gatra menyindir bahwa bangsa ini tampaknya memiliki cara mencintai sejarah yang aneh namun jatuh cinta pada luka sendiri.
“Seperti seseorang yang disakiti, tapi justru menulis puisi tentang keindahan yang menyayat. Mungkin kita terlalu romantis pada masa lalu yang kelam,” katanya.
Ia juga menyoroti ironi ketika keluarga korban pelanggaran HAM masih menunggu keadilan.
“Rasa malu sepertinya sudah pensiun dini. Bahkan dosa pun kini bisa mendapat piagam, asal ada tanda tangan pejabat di bawahnya,” sindirnya pedas.
Gatra menegaskan bahwa alasan “jasa besar membangun bangsa” tidak bisa menutupi sisi gelap sejarah.
“Ia memang membangun, tapi juga meruntuhkan. Membangun jalan, tapi menutup jalan demokrasi. Membangun ekonomi, tapi menindas suara yang berbeda. Ia seperti arsitek yang membuat rumah megah dari tulang rakyat yang dibungkam,” pungkasnya.