Surabaya kembali menjadi sorotan publik setelah beredarnya beberapa poster yang viral di media sosial. Poster-poster tersebut berisi ajakan untuk melakukan aksi demo besar-besaran di Balai Kota Surabaya pada Senin, 22 September 2025. Informasi yang tersebar melalui tulisan di dalam poster itu memuat tiga tuntutan utama yang dinilai penting oleh masyarakat dan kelompok pendukungnya.
Fenomena viralnya poster ini memantik perhatian luas, tidak hanya karena aksi demo yang direncanakan melibatkan banyak pihak, tetapi juga karena tuntutan yang diajukan menyangkut isu-isu krusial bagi warga kota Surabaya. Isu tersebut antara lain pembangunan pulau buatan di kawasan Pamurbaya, rencana pembangunan jalan tol di tengah kota dan Tol OERR, serta desakan pelepasan surat ijo yang masih menjadi persoalan klasik bagi ribuan warga Surabaya.
Isi Poster Viral dan Tiga Tuntutan Utama
Poster yang tersebar di berbagai platform media sosial berisi ajakan untuk masyarakat bergabung dalam aksi damai di Balai Kota Surabaya. Di dalamnya tercantum tiga poin tuntutan yang jelas dan tegas.
1. Menolak pembangunan pulau buatan di Pamurbaya.
Kawasan Pantai Timur Surabaya atau Pamurbaya selama ini dikenal sebagai wilayah konservasi mangrove dan ekosistem laut. Poster tersebut menegaskan penolakan masyarakat terhadap rencana pembangunan pulau buatan di wilayah itu.
2. Menolak pembangunan Tol Tengah Kota dan Tol OERR.
Proyek jalan tol sering menjadi isu kontroversial karena berkaitan dengan tata ruang, lingkungan, serta dampaknya terhadap permukiman. Tuntutan dalam poster ini meminta pemerintah untuk menghentikan rencana pembangunan dua ruas tol yang dianggap tidak sesuai dengan aspirasi warga.
3. Mendesak pelepasan surat ijo untuk warga kota Surabaya.
Surat ijo adalah istilah yang digunakan warga Surabaya untuk menyebut lahan milik pemerintah kota yang selama puluhan tahun ditempati masyarakat, tetapi status kepemilikannya belum dilepas. Tuntutan pelepasan surat ijo menjadi salah satu isu klasik yang terus diperjuangkan oleh sebagian besar warga kota.
Dengan tiga tuntutan ini, poster viral tersebut menjadi simbol keresahan dan harapan masyarakat untuk mendapatkan keadilan.
Dukungan dari Ormas Arek Suroboyo Bergerak (ASB)
Di luar viralnya poster itu, dukungan nyata juga datang dari organisasi masyarakat Arek Suroboyo Bergerak (ASB). Ketua umum ASB, Diana Samar, dalam keterangannya pada 20 September 2025, menyampaikan dukungan penuh terhadap aksi damai tersebut.
Menurut Diana, aksi yang akan dilakukan bukan sekadar kegiatan kelompok tertentu, melainkan bentuk aspirasi masyarakat Surabaya yang ingin didengar suaranya oleh pemerintah kota. Ia menegaskan bahwa ASB berdiri di belakang masyarakat untuk memastikan aspirasi itu tersampaikan dengan damai dan tertib.
Pernyataan Sikap Arek Suroboyo Bergerak
Dalam pernyataannya, Diana Samar menekankan bahwa ASB mendukung penuh aksi damai sebagai bentuk keseriusan dalam menyuarakan keadilan dan kebenaran. Menurutnya, aksi ini tidak boleh dipandang sebagai provokasi, melainkan sebagai ekspresi kecintaan masyarakat terhadap Surabaya.
“Kami sudah berkoordinasi dengan jajaran pengurus dan anggota ASB di lapangan untuk melakukan dukungan penuh kepada masyarakat kota Surabaya. Ini bukan provokasi, tapi bentuk kecintaan kami pada Surabaya dan anak-anak Indonesia,” ungkap Diana.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa ormas ASB berkomitmen menjaga ketertiban dalam aksi dan memastikan pesan yang disampaikan tetap berada dalam koridor damai.
Konteks di Balik Tuntutan
1. Isu pulau buatan di pamurbaya
Pamurbaya adalah kawasan ekosistem penting bagi Surabaya. Wacana pembangunan pulau buatan di kawasan ini menimbulkan kekhawatiran publik terkait dampaknya terhadap lingkungan, khususnya keberadaan hutan mangrove. Poster viral ini mencerminkan penolakan masyarakat atas rencana tersebut.
2. Isu Pembangunan Tol Tengah Kota dan Tol OERR
Pembangunan infrastruktur jalan tol memang menjadi kebutuhan transportasi, tetapi tidak jarang menimbulkan perdebatan di tengah masyarakat. Dalam kasus ini, poster yang viral menuntut agar rencana pembangunan Tol Tengah Kota dan Tol OERR dibatalkan karena dianggap tidak sesuai dengan aspirasi sebagian warga.
3. Isu Surat Ijo
Persoalan surat ijo merupakan salah satu isu lama di Surabaya. Ribuan warga menempati tanah dengan status kepemilikan pemerintah kota. Tuntutan pelepasan surat ijo berarti desakan agar lahan tersebut dilepaskan menjadi milik warga yang sudah menempatinya bertahun-tahun. Poster aksi demo ini menunjukkan bahwa masalah surat ijo masih menjadi perhatian serius warga kota.
Makna Aksi Damai bagi Warga Surabaya
Aksi damai yang direncanakan pada 22 September 2025 memiliki makna penting bagi warga Surabaya. Melalui aksi tersebut, masyarakat berusaha menunjukkan bahwa mereka ingin dilibatkan dalam proses pembangunan kota. Dukungan dari ormas seperti ASB juga memperlihatkan adanya solidaritas sosial dalam menyuarakan kepentingan bersama.
Selain itu, aksi ini menegaskan bahwa jalur demokratis dan damai menjadi pilihan utama masyarakat Surabaya. Mereka tidak ingin merusak, tetapi ingin menyampaikan aspirasi dengan tertib. Hal ini menjadi pesan penting bahwa demokrasi lokal bisa berjalan sehat bila ada ruang dialog antara warga dan pemerintah.
Dukungan dari Arek Suroboyo Bergerak (ASB) semakin memperkuat bahwa aspirasi masyarakat Surabaya tidak bisa diabaikan. Aksi damai ini menjadi wujud nyata bahwa demokrasi masih hidup dan masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan pendapat dengan tertib.
Dengan berlangsungnya aksi ini, harapan besar masyarakat tertuju pada pemerintah kota agar mampu mendengar, memahami, dan menindaklanjuti tuntutan yang sudah lama bergema. Aksi damai bukan hanya simbol perlawanan, tetapi juga ekspresi cinta masyarakat terhadap kotanya sendiri, Surabaya.