Secara umum, puisi dianggap karya manusia yang ditulis dengan bahasa yang indah. Namun, puisi bukan hanya tulisan. Puisi adalah tempat kejujuran seseorang dititipkan, kejujuran yang mungkin tak bisa terungkap secara langsung.
Namun, dengan cara membaca, menulis, dan mendengarkannya, kita seakan telah menceritakan semua masalah kehidupan kita kepada seseorang. Rasanya lega, seperti sebagian beban hidup berkurang. Ini membuktikan bahwa puisi memiliki fungsi terapeutik yang mendalam, melampaui sekadar estetika bahasa.
Mendalami Makna, Bukan Sekadar Membaca
Sebagian dari kita mungkin pernah mengatakan, “Setelah saya membaca puisi, tidak ada perasaan spesial yang muncul.” Puisi memang dibaca, namun makna dari suatu puisi tak akan terasa jika hanya sekadar dibaca. Kita harus bisa mendalami apa makna dari puisi tersebut, seakan kita ikut mengalir di aliran ceritanya.
Ketika kita mampu melakukan ini, kita akan merasakan perasaan yang berbeda, entah perasaan sedih, bahagia, dan marah sesuai dengan isi dari puisi yang kita baca. Intensitas emosi inilah yang menjadi bukti nyata bahwa kita telah terhubung dengan substansi puisi, bukan hanya permukaannya.
Koneksi Emosional Melalui Pendengaran
Tak harus membaca, kita juga bisa mendalaminya dengan mendengarkan. Relate tidak selalu ada di alunan musik. Di puisi, kita bisa merasa relate tanpa membaca/menulisnya. Ketika kita mendengar seseorang membacakan puisi, bila kita mendengarnya melalui hati, tanpa disadari kita bisa meneteskan air mata ataupun tersenyum bahagia.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa vokal dan intonasi pembaca puisi dapat menjadi jembatan emosi yang kuat, mengantarkan kejujuran yang tersimpan dalam kata-kata langsung ke sanubari pendengar.
Menulis sebagai Puncak Ungkapan Kejujuran
Jika perasaan setelah membaca dan reaksi saat mendengar puisi adalah bentuk “kejujuran” dari arti puisi, maka menurut saya, menulis puisi adalah cara terbaik untuk mengungkapkan perasaan. Seakan kita sedang menulis alur hidup kita sendiri, bersumber dari lubuk hati lalu ditulis dengan bahasa indah.
Kejujurannya amat terasa, namun dari ketiga cara (membaca, mendengar, dan menulis), bila hanya dilakukan bukan dipahami dan diresapi, maka puisi takkan pernah memiliki makna tersendiri.
Kunci untuk Meraih Makna
Oleh karena itu, makna sejati puisi terletak pada kemauan kita untuk berhenti sejenak, memahami, dan meresapi setiap diksi. Puisi bukanlah makanan siap saji yang bisa dinikmati sekali lahap.
Puisi adalah jendela jiwa penulis maupun pembaca/pendengar. Hanya dengan meresapi kejujuran yang dititipkan di dalamnya, kita dapat menemukan keringanan beban dan makna hidup yang mendalam.