Mahasiswa MKSB UNAIR Gali Budaya Samin di Bojonegoro
BOJONEGORO, – Program Studi Magister Kajian Sastra dan Budaya (MKSB), Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Airlangga (UNAIR), menggelar Praktik Kerja Lapangan (PKL) atau kuliah lapangan di Komunitas Masyarakat Samin (Sedulur Sikep), Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, Selasa (3/11/2026).
Kegiatan bertema Jagat Samin: Jelajah Gagasan, Adat, dan Budaya Samin ini bertujuan menggali kearifan lokal dan nilai-nilai kehidupan masyarakat Samin.
Rombongan mahasiswa dan dosen berangkat dari Halaman Parkir Eks-Mandiri, Kampus B UNAIR Surabaya. Kegiatan tersebut didampingi Ketua Program Studi MKSB, Prof. Nur Wulan, Dra., M.A., Ph.D., serta Ketua Minat Budaya Arum Budiastuti, S.S., M.C.S., Ph.D., dan Ketua Minat Sastra Dr. Ida Nurul Chasanah, S.S., M.Hum.
Menurut Bambang, sikap tersebut merupakan bentuk perlawanan berbasis kejujuran dan kesadaran budaya. Namun, setelah Indonesia merdeka, masyarakat Samin menerima pemerintahan yang sah, termasuk menjalankan kewajiban membayar pajak dan membangun fasilitas pendidikan secara swadaya.
Bambang juga menjelaskan lima pitutur utama ajaran Mbah Surosentiko, yakni berlaku jujur, sabar, tekun, dan ikhlas; tidak iri, dengki, serakah, maupun mengambil hak orang lain; tidak membeda-bedakan sesama; menjaga ucapan agar dapat dipertanggungjawabkan; serta memiliki kesadaran dan empati terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut menjadi pedoman kehidupan Sedulur Sikep.
Kelima pitutur itu juga tercermin dalam tiga angger-angger atau pedoman adat, yaitu Angger-angger Pertikel yang mengatur pikiran dan kebersihan batin, Angger-angger Pangucap yang mengatur kejujuran dalam bertutur kata, serta Angger-angger Lakonono yang mengatur perilaku dan tindakan. Ketiganya menjadi landasan untuk menjaga kehidupan masyarakat agar tetap tenteram dan harmonis.
Sementara itu, Ketua Program Studi MKSB FIB UNAIR, Prof. Nur Wulan, mengatakan kuliah lapangan penting bagi mahasiswa untuk memahami kearifan lokal secara kritis dan kontekstual. Menurutnya, masyarakat Samin memiliki nilai etika ekologis, kesetaraan sosial, dan ketahanan budaya yang tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan dan foto bersama. Rombongan kemudian menelusuri lingkungan permukiman masyarakat Samin untuk mengamati arsitektur ekologis, tata ruang sosial, serta menggali berbagai tradisi dan budaya lokal yang belum banyak dikenal masyarakat luas.
(Irfan Ali)