Surabaya – Kemacetan parah yang terjadi setiap sore di Jalan Kaliondo, Surabaya, dinilai sebagai bentuk pembiaran dan kelalaian dalam pengelolaan lalu lintas oleh Pemerintah Kota Surabaya. Tanpa pengaturan yang jelas di jam padat, arus kendaraan kerap lumpuh akibat pengendara saling berebut ruang jalan.
Warga menilai kondisi tersebut bukan lagi persoalan insidental, melainkan masalah kronis yang dibiarkan berlarut-larut. Absennya petugas dan tidak adanya rekayasa lalu lintas di titik rawan kemacetan disebut mencerminkan lemahnya tanggung jawab Pemkot melalui instansi teknis terkait.
Yanto (26), warga Jalan Wonokusumo Jaya Gang 7, menyebut kemacetan di Jalan Kaliondo sudah berlangsung lama tanpa solusi konkret. Menurutnya, situasi ini memperlihatkan adanya kelalaian dalam menjalankan fungsi pelayanan publik.
- “Setiap sore selalu macet parah. Tidak ada petugas, tidak ada pengaturan. Kalau ini dibiarkan terus, artinya ada kelalaian. Dampaknya kami yang kerja jadi terlambat dan emosi di jalan,” ujar Yanto kepada Redaksi informasi publik kamis (5/2/2026).
Ia menilai Pemkot Surabaya tidak seharusnya hanya menuntut kedisiplinan pengendara tanpa kehadiran negara di lapangan. Tanpa intervensi langsung, kemacetan berpotensi memicu konflik antar pengguna jalan hingga kecelakaan lalu lintas.
Hingga berita ini diturunkan, Pemerintah Kota Surabaya belum memberikan keterangan resmi terkait tudingan pembiaran dan kelalaian dalam penanganan kemacetan rutin di Jalan Kaliondo. Warga mendesak evaluasi menyeluruh dan langkah nyata agar persoalan tersebut tidak terus menjadi beban harian masyarakat.