Surabaya tidak hanya berjuang melawan gelombang kejahatan, tetapi juga melawan erosi kepercayaan publik. Dua insiden begal yang terjadi dalam rentang waktu berdekatan di kawasan timur kota—tepatnya di seputaran Jembatan Suramadu dan Tambak Wedi—menjadi bukti nyata betapa masalah keamanan ini bersifat sistemik, melampaui sekadar aksi kriminal individu.
Suramadu: Jalur Paksa di Bawah Bayang-Bayang Kegelapan
Bagi banyak warga, terutama para komuter dari Madura, Jalan Suramadu di Kecamatan Kenjeran bukan lagi sebuah jalan bebas hambatan, melainkan sebuah “koridor ketakutan”. Meski menjadi akses vital, kondisi jalan ini justru menjadi surga bagi pelaku begal. Penyebabnya klasik namun fatal: daerah yang sepi dan minim penerangan.
Pantauan di lapangan mengonfirmasi bahwa banyak lampu penerangan jalan (PJU) di sisi jalan tidak berfungsi. Kegelapan ini menciptakan ruang aman bagi para penjahat untuk beroperasi dan menyulitkan pengendara untuk membaca situasi atau mencari pertolongan.
Abdur Rosi, seorang pengendara dari Bangkalan, mengungkapkan dilema yang dihadapi banyak warga. “Sebetulnya sangat takut ketika melintas jalan tersebut. Namun, mau tidak mau saya harus melewati jalan ini, Mas,” ujarnya.
Pernyataannya menggambarkan situasi darurat dimana warga dipaksa untuk mempertaruhkan keselamatan mereka hanya untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Harapannya sederhana: pemerintah segera memperbaiki PJU agar rasa takut itu tidak terus menerus menghantui.
Trauma Berulang dan Respons Aparat
Ironisnya, ketakutan yang diungkapkan Rosi bukanlah perasaan yang berlebihan. di rangkum dari peristiwaterkininews.com Beberapa hari sebelumnya, kawasan Tambak Wedi yang masih berada dalam lingkup wilayah yang sama menjadi lokasi aksi begal yang lebih brutal.
Malik dan Ana, pasangan suami istri, menjadi korban dari enam pelaku bersenjata tajam jenis parang. Mereka dihadang dari dua arah oleh dua motor, dan sepeda motor mereka berhasil direngut dengan ancaman nyawa.
Keterkaitan yang Tak Terbantahkan
Menganalisis kedua peristiwa ini, kita dapat melihat sebuah pola yang jelas:
- Lokasi Strategis Kriminal: Kawasan sekitar Suramadu, termasuk Tambak Wedi, menjadi sasaran karena merupakan jalur penghubung yang relatif sepi, terutama pada dini hari.
- Faktor Pemicu yang Sama: Kondisi jalan yang gelap dan sepi adalah faktor pemersatu kedua lokasi, menciptakan lingkungan yang ideal untuk kejahatan.
- Modus Berkelompok: Pelaku begal di kedua insiden (dan berdasarkan keterangan warga) beroperasi dalam kelompok, menunjukkan adanya keberanian dan perencanaan.
Seorang warga Tambak Wedi secara sinis membenarkan pola ini, “Sudah sering, Mas. Dulu juga ada yang dibegal di situ. Tapi habis ramai, nanti senyap lagi.” Komentar ini menyiratkan siklus yang memprihatinkan: kejahatan terjadi -> ramai dibicarakan -> lalu dilupakan -> kejahatan terulang.
Suara Masyarakat Sipil
Dalam kekosongan respons aparat inilah, peran masyarakat sipil muncul. Poetra Soemba dari SBPIJ (Pemuda Indonesia) yang kebetulan berada di lokasi kejadian di Tambak Wedi, mengambil inisiatif untuk mengantarkan korban langsung ke Polsek Kenjeran. Tindakan ini adalah bentuk protes sekaligus bantuan nyata.
“Kami sudah coba hubungi Polsek, tapi tidak ada respons. Ini tidak bisa dibiarkan,” tegas Poetra. Ia kemudian menyampaikan kritik yang tajam, “Negara tidak boleh kalah oleh ketakutan rakyatnya sendiri. Aparat harus bergerak cepat, bukan hanya hadir setelah korban berjatuhan.”
Peringatannya tentang konsekuensi kelambanan aparat sangat serius: “Ketika hukum tidak lagi dipercaya, maka kekacauan tinggal menunggu waktu.”
Kisah Abdur Rosi yang takut melintas Suramadu dan trauma Malik-Ana di Tambak Wedi adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Keduanya adalah korban dari sebuah sistem keamanan yang lemah dan infrastruktur publik yang terbengkalai.
Pemerintah Kota Surabaya harus segera melakukan audit dan perbaikan massal terhadap seluruh PJU di kawasan rawan, terutama di sepanjang akses Suramadu dan Tambak Wedi. Penerangan yang memadai adalah deterrent (penangkal) kejahatan yang paling dasar.
Kepolisian Sektor (Polsek) Kenjeran harus mengevaluasi sistem respons daruratnya dan memperkuat patroli malam yang pro-aktif, tidak hanya reaktif. Membangun kembali kepercayaan warga adalah langkah pertama yang krusial.
Kolaborasi Masyarakat: Pola Community Policing (polisi masyarakat) perlu digiatkan, dimana warga dan aparat berbagi informasi untuk mencegah kejahatan. Tanpa langkah-langkah konkret ini, jalanan di Surabaya Utara akan terus menjadi medan ketakutan, dan suara jeritan korban seperti Malik, Ana, dan Rosi hanya akan tenggelam dalam kegelapan yang sama yang membahayakan mereka.