Kasus Penipuan Rekrutmen ASN Gresik, Terduga Pelaku Ngaku Korban Setor Ratusan Juta

13 April 2026 · Red

Gresik – Kasus dugaan penipuan bermodus rekrutmen aparatur sipil negara (ASN) di Kabupaten Gresik terus berkembang. Fakta baru terungkap setelah salah satu terduga pelaku, AG, mendatangi kantor Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Gresik dan mengaku sebagai korban.

AG datang langsung ke ruang Kepala DPMD Gresik untuk menyampaikan kronologi yang dialaminya. Ia juga menunjukkan sejumlah bukti, mulai dari percakapan WhatsApp hingga dokumen yang diduga terkait proses pengangkatan ASN.

Kepala DPMD Gresik, Abu Hasan, membenarkan pertemuan tersebut. Ia mengaku awalnya tidak mengetahui bahwa sosok yang ramai diberitakan merupakan bawahannya sendiri.

”Jadi saya chat di grup, siapa pun yang terlibat silakan menghadap ke ruangan. Besoknya dia datang untuk menceritakan,” ucap Abu Hasan.

Dalam pertemuan itu, AG mengaku ikut menjadi korban dalam praktik penipuan tersebut. Ia menyebut telah menyetor uang hingga ratusan juta rupiah yang berasal dari tiga orang, termasuk anak kandungnya serta dua kerabat dari Lamongan.

Tidak hanya itu, dugaan korban lain disebut berasal dari jaringan yang lebih luas, termasuk dari kalangan kepala desa. Salah satunya bahkan disebut merupakan anak dari kepala desa berinisial T.

Di hadapan Abu Hasan, AG juga memperlihatkan bukti percakapan dengan seseorang berinisial AN yang diduga menjadi penghubung dalam praktik tersebut.

”Di ruangan saya, AG menunjukkan sejumlah barang bukti. Termasuk chat dengan AN. Chat itu mungkin membuat AG yakin dengan kedok AN bisa memasukkan ASN,” jelas Abu Hasan.

Dalam percakapan tersebut, AN disebut berkomunikasi dengan pihak yang mengaku sebagai pegawai Badan Kepegawaian dan Pengembangan SDM (BKPSDM) Gresik. Sementara proses penyerahan dokumen pengangkatan (SK) diduga dilakukan di lingkungan Kantor Bupati Gresik.

”Jadi si A nanti ketemu orang ini di lantai 4. Si B ketemu mbak ini di timur kantor,” kata dia.

AG juga mengungkap tarif yang dipatok dalam modus tersebut. Untuk lulusan SMA, biaya yang diminta mencapai Rp115 juta, sedangkan lulusan sarjana sebesar Rp125 juta. Namun, AG mengaku mendapatkan potongan harga hingga 50 persen dari AN.

”AG mengaku kemungkinan korbannya jauh lebih banyak dari itu, karena ada yang bayar langsung ke AN,” ujar Abu Hasan.

Menindaklanjuti informasi tersebut, Abu Hasan langsung meminta agar seluruh barang bukti diamankan. Ia juga menginstruksikan AG untuk memberikan keterangan kepada Inspektorat dan Polres Gresik guna memperjelas kasus ini.

”Sempat sulit dihubungi, tapi saya minta untuk datang memberi keterangan agar semua jelas,” tandas Abu Hasan.

Dikutip dari JawaPos.com, kasus ini masih dalam proses penelusuran lebih lanjut oleh pihak berwenang untuk mengungkap jaringan dan jumlah korban secara menyeluruh.