Jurnalis Lebanon Tewas dalam Serangan Israel, PM Sebut Kejahatan Perang

24 April 2026 · Red

BEIRUT – Kematian seorang jurnalis Lebanon dalam serangan udara Israel memicu kecaman luas dari komunitas internasional. Peristiwa ini kembali menyoroti risiko tinggi yang dihadapi pekerja media di wilayah konflik.

Dikutip dari Liputan6.com, jurnalis Amal Khalil (43), yang bekerja untuk media Al-Akhbar, tewas dalam serangan berulang (double-tap strike) pada Rabu (22/4/2026). Ia dimakamkan sehari kemudian, Kamis (23/4).

Insiden ini terjadi saat tim penyelamat berusaha mengevakuasi korban dari reruntuhan bangunan, namun akses terhambat akibat situasi di lokasi.

Kematian Amal memicu kembali tuduhan bahwa Israel menargetkan jurnalis dalam operasinya, meskipun tuduhan tersebut berulang kali dibantah.

Presiden Lebanon Joseph Aoun menyatakan bahwa penargetan jurnalis merupakan tindakan serius yang melanggar hukum internasional. Ia menilai serangan tersebut sebagai upaya menutupi fakta di lapangan.

Sementara itu, Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam juga mengecam keras insiden tersebut.

“Penargetan pekerja media di wilayah selatan saat mereka menjalankan tugas profesionalnya bukan lagi insiden terpisah, tetapi telah menjadi pendekatan yang mapan yang kami kecam dan tolak, sebagaimana juga ditolak oleh semua hukum dan konvensi internasional,” tulis Salam di media sosial, seraya menegaskan bahwa Lebanon akan menempuh langkah di forum internasional sebagai respons terhadap tindakan Israel.

Menurut data yang beredar, Amal merupakan jurnalis kesembilan yang tewas akibat serangan Israel di Lebanon sepanjang tahun ini. Sebelumnya, tiga jurnalis juga dilaporkan tewas dalam pola serangan serupa.

Kronologi kejadian menunjukkan bahwa Amal sempat berlindung di sebuah rumah setelah serangan awal menghantam kendaraan di dekatnya. Dalam serangan pertama tersebut, dua orang dilaporkan tewas, sementara Amal dan rekannya mengalami luka.

Namun, rumah tempat mereka berlindung kembali menjadi sasaran serangan udara. Rekannya, Zeinab Faraj, berhasil dievakuasi, sementara Amal terjebak selama berjam-jam di lokasi kejadian.

Upaya penyelamatan sempat terhambat setelah tim medis tidak dapat menjangkau lokasi akibat kondisi keamanan. Jenazah Amal baru berhasil dievakuasi beberapa jam setelah serangan.

Serangan ini mendapat kecaman dari berbagai organisasi internasional, termasuk Reporters Without Borders dan Committee to Protect Journalists.

“Serangan berulang di lokasi yang sama, penargetan area tempat jurnalis berlindung, serta penghalangan akses medis dan kemanusiaan merupakan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional,” sebut direktur regionalnya, Sara Qudah. “CPJ menilai pasukan Israel bertanggung jawab atas terancamnya nyawa Amal Khalil dan luka yang dialami Zeinab Faraj akibat serangan yang menargetkan lokasi mereka.”

Di sisi lain, pemerintah Israel melalui penasihat luar negeri Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yakni Ophir Falk, menyatakan bahwa insiden tersebut sedang dalam proses penyelidikan.

“Saya bisa mengatakan satu hal, kami sedang menyelidiki insiden ini, tetapi yang bisa saya pastikan 100 persen adalah bahwa Israel tidak pernah menargetkan warga sipil. Tidak pernah menargetkan jurnalis. Sebaliknya, kami melakukan segala upaya untuk meminimalkan risiko bagi warga sipil dan jurnalis,” klaim Falk.

Kasus ini kembali menambah daftar panjang korban jurnalis dalam konflik di kawasan Timur Tengah, sekaligus memperkuat desakan global untuk perlindungan pekerja media di wilayah perang.